wartakini.id – Kecelakaan fatal Xiaomi SU7 di Maret 2025 lalu berbuntut panjang. Pemerintah China, melalui Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, melarang penggunaan istilah "mengemudi pintar" dan "mengemudi otonom" dalam iklan mobil. Langkah tegas ini diambil menyusul insiden tersebut yang menimbulkan kekhawatiran publik terhadap keselamatan fitur bantuan pengemudi.

Related Post
Pertemuan dengan hampir 60 perwakilan produsen mobil menghasilkan keputusan untuk memperketat regulasi teknologi ADAS (Advanced Driving Assistance System). Kecelakaan Xiaomi SU7, yang terbakar setelah menabrak tiang beton dengan kecepatan tinggi beberapa detik setelah pengemudi mengambil alih kendali dari sistem ADAS, menjadi pemicu utama. Temuan awal menunjukkan kecepatan mobil mencapai 97 kilometer per jam saat kejadian.

Aturan baru melarang pembaruan perangkat lunak ADAS jarak jauh tanpa persetujuan pelanggan. Produsen wajib melakukan pengujian menyeluruh dan mendapat persetujuan otoritas sebelum melakukan update. Raksasa teknologi Huawei, pemasok ADAS untuk beberapa merek termasuk Audi di China, turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Langkah ini muncul di tengah persaingan ketat produsen mobil yang gencar mempromosikan fitur "mengemudi pintar" sebagai daya tarik utama. BYD misalnya, meluncurkan 21 model mobil dengan harga terjangkau yang dilengkapi fitur tersebut. Leapmotor dan Toyota pun mengikuti tren serupa.
Namun, Pusat penelitian keselamatan lalu lintas Kementerian Keamanan Publik China memberikan peringatan keras. Produsen yang menyesatkan konsumen dengan menggembar-gemborkan fitur bantuan pengemudi secara berlebihan dapat dikenai denda hingga sepuluh kali lipat biaya iklan atau pencabutan izin usaha. Insiden Xiaomi SU7 menjadi pelajaran berharga bagi industri otomotif China untuk memprioritaskan keselamatan di atas segalanya.










Tinggalkan komentar