Wartakini.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, memberikan apresiasi terhadap target pertumbuhan ekonomi yang tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Dalam RAPBN tersebut, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% di tahun 2026, di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Related Post
Anindya menilai, target tersebut cukup realistis meskipun dunia sedang menghadapi gejolak geopolitik, persaingan senjata, dan perang tarif. "Dalam kondisi global yang penuh tantangan, target pertumbuhan 5,4% cukup realistis," tegas Anindya dalam keterangannya, Senin (18/8/2025).

Selain pertumbuhan ekonomi, RAPBN 2026 juga menargetkan inflasi 2,5%, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) di kisaran 6,9%, dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Anindya juga memuji komitmen pemerintah dalam menjaga kredibilitas fiskal, terlihat dari alokasi belanja negara sebesar Rp3.786,5 triliun, meningkat 7,3% dari perkiraan realisasi tahun 2025. Pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp3.147,7 triliun, atau naik 9,8%. Defisit APBN dirancang sebesar Rp638,8 triliun atau 2,48% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Lebih lanjut, Anindya mengapresiasi upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai program. Target penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,44%-4,96%, penurunan kemiskinan menjadi 6,5%-7,5%, dan perbaikan rasio Gini menjadi 0,377-0,380, menjadi bukti komitmen tersebut. Pemerintah juga menargetkan peningkatan Indeks Kesejahteraan Petani dan penciptaan lapangan kerja formal.
Namun, Anindya juga menyoroti adanya penurunan target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 4,7% menjadi Rp455 triliun, meskipun penerimaan pajak ditargetkan naik 12,8% menjadi Rp2.692 triliun. Secara keseluruhan, Anindya menilai RAPBN 2026 sebagai langkah yang positif dan realistis dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.










Tinggalkan komentar