wartakini.id – Mimpi besar Lei Jun untuk membawa Xiaomi ke kancah otomotif kini bukan lagi sekadar angan. Sejak diumumkan pada 30 Maret 2021 dengan suntikan dana fantastis, proyek Xiaomi Auto telah menjelma menjadi raksasa yang siap mengguncang pasar global. Setelah sukses memproduksi lebih dari 800.000 unit kendaraan listrik dalam lima tahun, kini mata dunia tertuju pada Indonesia. Akankah mobil pintar ini segera melaju di jalanan Nusantara?
Baca Juga
Perjalanan Xiaomi di industri otomotif dimulai dengan gebrakan luar biasa di Tiongkok. Sedan listrik pertamanya SU7 yang meluncur April 2024, langsung mencetak rekor penjualan 139.500 unit di akhir tahun. Tahun berikutnya, 2025, menjadi puncak kejayaan dengan pengiriman mencapai 411.837 unit. SU7 sendiri menjadi bintang utama dengan 258.164 unit, bahkan melampaui dominasi Tesla Model 3 di pasar Tiongkok. Kesuksesan ini diikuti oleh SUV YU7 dan varian bertenaga tinggi SU7 Ultra.

Namun, laju kencang ini tak lepas dari tantangan. Pada tahun 2026, target ambisius 550.000 unit hanya tercapai 52% atau 286.475 unit hingga September. Penjualan sempat melambat di pertengahan tahun akibat penghentian produksi SU7 generasi awal. Kebangkitan terjadi berkat peluncuran SkyNomad, sebuah SUV keluarga berbasis REEV. Meskipun demikian, segmen otomotif Xiaomi masih menanggung kerugian operasional sekitar Rp6,6 triliun pada Kuartal II 2026, cerminan dari persaingan yang sangat ketat di pasar domestik.
Melihat pasar Tiongkok yang mulai padat, Xiaomi mengalihkan pandangan ke panggung internasional. Pada pameran IFA Berlin September 2026, perusahaan ini meneken kesepakatan penting dengan jaringan dealer raksasa Eropa. Strategi ekspansi globalnya jelas: membidik negara-negara maju dan segmen menengah ke atas terlebih dahulu. Penjualan di Eropa dijadwalkan dimulai akhir 2027, sementara produksi kendaraan dengan setir kanan baru akan digarap pada awal 2028.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Michael Feng, Country Director Xiaomi Indonesia, memberikan kepastian yang dinanti-nanti. "100 persen kami akan membawa produk mobil listrik ke pasar ini, namun saat ini kita masih harus menunggu," ujarnya. Penantian ini bukan tanpa alasan. Indonesia sebagai negara dengan sistem kemudi setir kanan, harus bersabar hingga gelombang produksi awal 2028, berbeda dengan gelombang untuk pasar Eropa. Ini berarti, penggemar Xiaomi di Tanah Air perlu sedikit lebih lama menanti kehadiran mobil listrik impian mereka.





































