wartakini.id – Dominasi uang tunai di Indonesia kian tergerus oleh gelombang revolusi digital. Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS kini bukan lagi sekadar metode pembayaran alternatif, melainkan telah menjadi pilar utama percepatan ekonomi nasional. Pemerintah menegaskan bahwa digitalisasi harus menciptakan dampak nyata yang melampaui sekadar kemudahan bertransaksi.
Baca Juga
"Kita tidak lagi hanya berbicara tentang digitalisasi transaksi, tetapi juga tentang bagaimana konektivitas digital dapat menjadi penggerak produktivitas, perdagangan, investasi, inklusi dan daya saing ekonomi Indonesia," ungkap Analis Kebijakan Ahli Utama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rizal Edwin, dalam keterangan resminya pada Minggu 27 September 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi visi besar di balik transformasi digital yang sedang berlangsung.

Pemanfaatan instrumen teknologi dalam lanskap ekonomi dan keuangan digital nasional menunjukkan lonjakan signifikan. Hingga akhir Juni 2026, ekosistem QRIS berhasil merangkul 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant. Angka yang mencengangkan, di mana 96,68 persen di antaranya merupakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM. Ini menjadi bukti nyata bahwa digitalisasi bukan hanya untuk korporasi besar, melainkan juga meresap hingga ke akar rumput perekonomian.
Dalam paruh pertama tahun 2026 saja, volume transaksi QRIS telah mencapai 12,55 miliar kali. Nilainya pun fantastis, menembus Rp1,12 kuadriliun atau melesat 93,92 persen secara tahunan. Pencapaian ini menegaskan penetrasi pembayaran digital yang kian masif. Kondisi ini secara langsung membuka gerbang ekspansi pasar bagi UMKM, memangkas biaya transaksi, mempermudah akses pembiayaan, serta memperkuat daya saing dunia usaha di era modern.
Jaringan pembayaran digital ini juga terus merambah batas negara. Implementasi QRIS Antarnegara kini telah menghubungkan transaksi di Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Tak berhenti di situ, ekspansi akan segera menyentuh Hong Kong dan Timor-Leste. Keberhasilan perluasan lintas batas ini menempatkan sistem pembayaran digital sebagai jembatan penting menuju integrasi ekonomi kawasan yang lebih luas. Hal ini mempermudah transaksi lintas negara, membuka jalan bagi produk UMKM ke pasar global, serta menjadi tulang punggung sektor perdagangan, pariwisata, dan arus investasi.





































