Wartakini.id Jakarta – Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), inovasi sistem pembayaran digital besutan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), semakin populer di Indonesia dan mulai merambah pasar internasional. Kehadirannya tak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga memicu kekhawatiran di Amerika Serikat terkait potensi hilangnya pangsa dolar di kawasan ASEAN.

Related Post
QRIS kini tak hanya bisa digunakan di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri berkat kerjasama Bank Indonesia dengan bank sentral negara lain. Saat ini, QRIS sudah bisa digunakan di Singapura, Thailand, dan Malaysia. Bahkan, BI berencana memperluas jangkauannya ke Jepang dan Cina.

Deputi Gubernur BI, Filianingsih, mengungkapkan bahwa uji coba sandbox telah berlangsung sejak 15 Mei 2025. Selain itu, QRIS juga ditargetkan hadir di India, Korea Selatan, dan Arab Saudi.
Lantas, apa yang membuat QRIS begitu istimewa hingga mampu mengancam dominasi sistem pembayaran konvensional seperti Visa dan Mastercard? Salah satu keunggulannya adalah kemudahan dan fleksibilitasnya. Pengguna hanya perlu memindai kode QR untuk melakukan pembayaran, tanpa perlu membawa uang tunai atau kartu kredit. Hal ini tentu sangat praktis, terutama bagi para pelaku bisnis kecil dan menengah (UMKM).
Selain itu, QRIS juga menawarkan biaya transaksi yang lebih rendah dibandingkan dengan sistem pembayaran lainnya. Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pedagang dan konsumen. Dengan biaya yang lebih murah, QRIS dapat membantu meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis.
Ekspansi QRIS ke berbagai negara juga menjadi bukti bahwa sistem pembayaran ini memiliki potensi besar untuk menjadi standar global. Jika semakin banyak negara yang mengadopsi QRIS, bukan tidak mungkin dominasi dolar AS dalam transaksi internasional akan semakin tergerus.










Tinggalkan komentar