Potensi kekayaan alam Indonesia ternyata jauh melampaui sekadar kayu. Sektor kehutanan kini membuka lembaran baru, menawarkan peluang ekonomi fantastis dari beragam produk non-kayu dan jasa lingkungan yang selama ini mungkin terabaikan. Ini bukan sekadar wacana, melainkan sebuah strategi transformatif yang siap mendongkrak kesejahteraan masyarakat dan perekonomian nasional.
Baca Juga
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia APHI Soewarso menegaskan era pengelolaan hutan yang hanya berfokus pada kayu sudah berakhir. Ke depan, konsep Multiusaha Kehutanan yang mengintegrasikan pemanfaatan kayu, hasil hutan bukan kayu HHBK, serta layanan ekosistem akan menjadi pilar utama. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah berlipat ganda bagi komunitas di sekitar hutan.

Namun pengembangan potensi luar biasa ini tidak bisa berjalan tanpa dukungan ilmiah. Soewarso menekankan pentingnya riset mendalam untuk mengidentifikasi komoditas primadona HHBK yang sesuai dengan kondisi ekologis sosial dan ekonomi spesifik di setiap daerah. Kajian ilmiah akan menjadi kunci dalam menentukan strategi budidaya pengolahan hingga pengembangan pasar yang efektif.
Sebagai contoh nyata Maluku Utara disebut memiliki spektrum luas potensi hasil hutan bukan kayu. Dari rempah-rempah hingga tanaman obat Maluku Utara siap menjadi lumbung komoditas bernilai tinggi. Pengembangan ini tidak hanya akan memperkuat kinerja bisnis kehutanan tetapi juga secara langsung memberikan dampak ekonomi positif bagi penduduk setempat.
Melihat urgensi tersebut APHI telah menggandeng Universitas Khairun untuk berkolaborasi dalam pendidikan penelitian dan inovasi manajemen hutan lestari. Salah satu fokus utama kerja sama ini adalah menjadikan Hutan Pendidikan Universitas Khairun sebagai laboratorium hidup. Di sana berbagai riset dan uji coba penerapan Multiusaha Kehutanan akan dilakukan. Ini adalah langkah konkret menuju pemanfaatan hutan yang lebih cerdas dan berkelanjutan demi masa depan Indonesia.





































